top of page

Surga tersembunyi di Adonara Timur, Pantai Watotena!! Wajib Kesini!

  • Gambar penulis: Anseli Sili Doni
    Anseli Sili Doni
  • 8 Apr 2022
  • 4 menit membaca

Diperbarui: 1 Sep 2022

Desember 2021 yang lalu saya menyempatkan diri untuk kembali mengunjungi kampung halaman ayah saya di Adonara Timur tepatnya di desa Lamawolo, Pulau Flores, NTT.


Pemandangan sejak lima tahun silam kini terlihat sedikit berbeda, namun hangatnya sapaan "Kereu ina/ama" *(yang artinya : ungkapan salam yang dilontarkan ketika berpapasan untuk wanita/pria), serta tradisi khasnya yakni jumat bersih oleh kaum wanita di kampung ini masih melekat dengan erat di ingatan saya dan nyata hingga hari dimana saya menginjakan kaki saya kembali di bawah kaki Gunung Ile Boleng ini. Perjalanan saya kali ini menuju Adonara, saya sebut "pelarian" karena bermodalkan kenekatan dan dana yang minim dibalik kesibukan saya menghadapi Ujian Akhir Semester satu minggu mendatang. Merasa sangat suntuk dengan rutinitas di depan "si merah" *(yaa itu panggilan spesial untuk laptop kesayangan hehe) saya memutuskan mengajak sahabat saya Inry dalam misi "pelarian" ini.


Let's Go !!

Perjalanan dimulai dari kota Pancasila, Ende, sekitar pukul 07.00 pagi saya dan Inry beranjak menuju kota Larantuka menggunakan bus antar kota. Perjalanan ini memakan biaya sekitar 130 ribu rupiah per orang dengan jarak tempuh sekitar 286 km. Waktu tempuh sekitar 8 jam perjalanan dengan sekali perhentian di kampung Boru untuk beristirahat dan makan siang. Sekitar setengah jam melepas penat sekaligus mengisi perut dengan semangkuk bakso dan juga teh hangat, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju kota Larantuka. Tiba di kota Larantuka sekitar pukul 4 sore, dan diantar menuju rumah paman saya yang berada di desa Lebao. Malam itu menjadi malam panjang nan lelap. Setelah bergegas membersihkan diri dengan air hangat, dibaluri aroma minyak kayu putih yang menjadi lotion kami malam itu cukup mengobati rasa penat setelah seharian suntuk berada di dalam bus. Setelah dua hari beristirahat di rumah paman, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Adonara tetapi kali ini ditemani paman saya.


Pukul 09.00 pagi kami bertolak dari pelabuhan Larantuka menuju Adonara menggunakan kapal motor. Perjalanan laut dari Pelabuhan Larantuka menuju Pelabuhan Waiwerang Adonara memakan waktu sekitar 1,5 jam dengan tarif 20 ribu rupiah per orang. Kapal motor merupakan salah satu transportasi utama masyarakat Flores Timur dan Lembata, oleh karena itu kepadatan di kapal motor begitu nampak dari kerumunan penumpang hingga barang yang diangkut kapal motor ini. Salah satu yang masih khas dan masih saya temui hingga sekarang yakni kapal motor "Arkona" yang merupakan kapal motor jurusan Larantuka - Waiwerang yang masih beroperasi dengan baik dari usia saya seumuran anak SD hingga sekarang saya berusia 23 tahun, kapal ini masih cukup kuat untuk beroperasi setiap harinya. Tiba di pelabuhan Waiwerang kami langsung menuju rumah kakek dan nenek yang terletak di desa Lamawolo.


Si cantik dari timur Adonara, Pantai Watotena !

Singkatnya waktu liburan ini tentunya tidak cukup jika hanya berdiam diri di dalam rumah saja, saya bersama keluarga memutuskan untuk mengunjungi salah satu tempat wisata andalan kebanggaan orang Lamaholot yaitu Pantai Watotena. Pantai Watotena terletak di Desa Bedalewun, Adonara Timur. Perjalanan dari desa Lamawolo menuju pantai Watotena memakan waktu sekitar 15 menit menggunakan mobil.


Pantai Watotena, Adonara Timur, 06 Desember 2020

Menurut cerita warga setempat, pantai ini merupakan salah satu saksi atau simbol suatu kejadian di masa lampau yang masih hidup sampai sekarang. Sesuai dengan arti namanya "Watotena" yang berarti perahu dari batu atau batu yang berbentuk perahu . Arti dari Watotena ini bisa dilihat dari salah satu bebatuan hitam (batu magma) yang bentuknya menyerupai sebuah kapal.


Pesona pantai ini sungguh memanjakan mata para pengunjung, dari hamparan panjang pasir putih, bulir pasirnya yang halus dan bersih, deburan ombak, bebatuan hitam disekelilingnya yang mengapit pantai, dibingkai dengan lukisan Sang Agung "Gunung Ile Boleng" dibelakangnya. Indah sekali, mungkin tidak semuanya bercerita lewat potretan saya di blog ini, tapi percayalah semuanya jauh lebih indah nyatanya. Batu hitam yang terdapat di hamparan pantai Watotena ini merupakan hasil semburan magma dari Gunung Ile Ape, Lembata. Perpaduan bebatuan hitam yang cantik ditambah angin sepoi-sepoi, dan warna air laut yang bergradasi hijau biru semakin memanjakan pengunjung untuk berlama-lama di tempat ini. Pantai ini telah dilengkapi dengan fasilitas seperti "lopo"atau gubuk kecil yang tersedia sebagai tempat untuk beristirahat.


Pada saat berkunjung ke pantai ini, kebetulan ada beberapa rombongan keluarga yang juga mengadakan acara outdoor berupa pesta kecil-kecilan untuk merayakan komuni suci dengan venue Pantai Watotena tentunya.



Masalah kebersihan pantai ini tentunya menjadi bagian paling penting, para pengunjung dilarang membuang sampah ataupun membawa rokok dan minuman keras di pesisir pantai. Bagi yang ingin menikmati minuman atau merokok sudah disediakan lopo, dan sampah harap dibuang pada tempatnya.

Menikmati matahari terbit maupun terbenam di tempat ini sangatlah disarankan karena pemandangannya sudah pasti tidak membuat anda berpaling ke yang lain, dengan biaya 5 ribu rupiah anda sudah bisa menikmati Pantai Watotena sepuasnya.



Kampung Lamawolo

Tidak afdol tentunya kalau tidak memperkenalkan kampung halaman ayah saya yang tidak kalah cantiknya. Kampung Lamawolo berada tepat di bawah kaki Gunung Ile Boleng, adat dan budaya masih sangat kental di daerah ini, orang-orangnya juga tidak kalah ramah walaupun tampangnya garang. Kemanapun anda pergi dan berpapasan dengan masyarakat sekitar, entah itu bocah SD maupun orang dewasa yang tidak kalian kenal janganlah heran ataupun merasa aneh jika ditegur dengan sapaan hangat andalan kami "Kereu", hal ini jadi unik karena jarang saya jumpai ditempat lain dimana tradisi tegur sapa sudah hampir tenggelam rasanya.


Sebagai putri Adonara yang hidup berdampingan dengan adat tentunya saya tidak lupa untuk mengunjungi tanah leluhur saya yang letaknya di Kampung Lamawolo Atas. Di Kampung ini terdapat sebuah Bale Adat Suku Lamawolo yang berisi rumah adat dari tiap suku yang berbeda di desa Lamawolo dan sebuah tanah lapang untuk upacara adat. Sebagai bentuk pengormatan untuk tanah leluhur, saya bersama Indry mengunjungi tempat ini dan saya menyempatkan waktu untuk sedikit berbincang dan bertegur sapa dengan Kepala Suku maupun yang menjaga rumah adat suku saya. Ada berbagai tempat di area Bale Adat ini yang tidak bisa dijangkau oleh sembarangan orang, namun dengan tetap menjaga sikap dan tutur kata maka kita pun bisa keluar dari tempat ini dengan berkat baik pula.


Setiap doa leluhur selalu mengiringi kemanapun anak cucunya berpijak, dengan tidak melupakan mereka merupakan salah satu penghormatan besar bagi para leluhur kita.

Pagi itu dibaluti "Kwatek Adonara" *(Kwatek merupakan kain tenun tradisional Adonara yang ditenun langsung oleh Ina *Sapaan untuk perempuan Adonara) saya dan Inry menyusuri Bale Adat Suku Lamawolo yang terletak dibawah lembah Gunung Ile Boleng. Ragam bentuk rumah adat tiap suku di Lamawolo yang terdapat di Bale Adat pada umumnya semi modern, dilihat dari perpaduan material yang dipakai untuk membangun rumah adat yakni beton dan sebagian dinding berupa bambu.


Pohon Suku/Adat (tak berdaun), 07 Desember 2020

Mengenakan Kwatek Adonara

"Bale Adat" tempat upacara adat biasanya berlangsung

Pelarian saya kali ini sangatlah singat dan padat tapi sangat berkesan. Mudah-mudahan di lain kesempatan saya bisa lebih sering menyempatkan waktu untuk mengunjungi surga kecil di ujung timur pulau Flores ini.


1 Komentar


deliaflow93
31 Agu 2022

Hihi ada aku 🥰 ditunggu pelarian selanjutnya adon ❤️

Suka
bottom of page